TRIP TO BADUY DALAM
BUKAN JALAN KAKI BIASA
Perjalanan dimulai dari Stasiun Tanah Abang. Hari itu kami berangkat sekitar pukul 07.50 pagi menggunakan KRL ke Rangkasbitung. Perjalanan mebutuhkan waktu 2 jam. Kereta saat itu penuh jadi kami berdiri hingga Stasiun Rangkas Bitung "anggap saja pemanasan :)". Tiba di Rangkasbitung sekitar pukul 10.00. Dari situ kami menyebrang ke terminal untuk naik mobil Elf ke desa Ciboleger. Perjalanan ke Desa Ciboleger sekitar 1,5 jam. Tiba di Ciboleger kami istirahat makan siang dan memulai perjalanan ke Baduy Dalam pada pukul 13.00.
Yang perlu disiapkan untuk trip ke Baduy Dalam adalah stamina. Yup, ini yang paling penting. Pastikan kalian lakukan olahraga ringan terlebih dahulu beberapa hari sebelum berangkat jika belum terbiasa tracking. Jarak yang akan ditempuh sekitar 12km pergi (4,5 jam) dan 12km pulang (4 jam), total 24km yang harus dilalui dengan jalan kaki. Ini bukan jalan kaki biasa, karena medan yang ditempuh cukup berat. Jalan naik turun gunung yang berbatu dan tanah liat. Jadi membutuhkan otot kaki dan semangat yang kuat. Percayalah, lebih banyak tanjakan (kami menyebutnya tanjakan cinta, sebagian menyebutnya tanjakan setan) dan turunannya dari pada jalan rata.
Dari Desa Ciboleger, ada beberapa anak Baduy Dalam yang sudah siap menjemput, mereka menawarkan jasa porter atau jasa angkut tas pengunjung. Tarifnya sukarela tapi pengunjung biasa membayar Rp.50.000 sekali jalan untuk satu tas. Beberapa yang menjemput kami masih anak kecil, umurnya sekitar 5 sampai 10 tahun, tapi tenaga mereka seperti tenaga kuda, kaki-kaki kecil mereka seperti ada rem cakramnya. Perjalanan yang kami tempuh adalah 4 jam, tapi menurut mereka, jika mereka berjalan sendiri tanpa pengunjung, mereka hanya memerlukan waktu 1 jam.
![]() |
| Anak-anak baduy dalam yang menyediakan jasa porter |
Buat kalian yang tidak mau mengeluarkan biaya untuk porter, kalian bisa membawa tas kalian sendiri (asal kuat aja). Barang yang harus dibawa tidak perlu banyak, berikut beberapa barang yang perlu untuk dibawa:
1. Pakaian ganti untuk 2D1N
2. Perlengkapan mandi (yang ini tidak akan terpakai di Baduy Dalam, akan dipakai waktu pulang di Desa Ciboleger nanti)
3. Jas hujan (buat jaga-jaga kalau hujan)
4. Senter (Sangat penting)
5. Sleeping bag atau sarung (Di sana tidak ada kasur)
6. Botol minum
7. Sendal atau sepatu gunung
8. Jaket (Kurang penting si karena di sana tidak dingin "saat itu")
9. Perlengkapan pribadi lainnya
Sepanjang perjalanan kami melewati beberapa desa Baduy Luar, di depan rumah terlihat para wanita sedang menenun. Desanya sepi, tapi terkesan damai. Pemandangan yang ada semua hijau, pohon-pohon, jembatan dan sungai.
Selain dari rombongan kami dan anak-anak Baduy Dalam, ada bapak-bapak penjual air minum juga yang ikut berjalan bersama kami. Mereka membawa dua ember besar berisi air minum yang nantinya dijual. Harganya bermacam-macam. Air mineral Rp. 8.000 dan minuman ion Rp. 10.000. Penjual ini akan ada sepanjang perjalanan pergi dan pulang, jadi tidak perlu khawatir kehausan di jalan.
Selama masih di area Baduy Luar, pengunjung masih diijinkan untuk mengambil gambar atau foto, tapi setelah melewati perbatasan, semua kamera harus dimatikan. Untuk warga asing sendiri hanya bisa berkunjung sampai Desa Gajebo, tidak bisa sampai di perbatasan. Di Desa Gajebo inilah adalah tempat yang tepat jika ingin menyerah. Yup, tour leader akan menanyakan, siapa yang ingin lanjut dan siapa yang ingin berhenti dan menginap di situ saja, karena setelah meninggalkan Desa Gajebo, semua wajib melanjutkan perjalanan hingga Baduy Dalam dan tidak boleh ada kata menyerah.
![]() |
| Jembatan perbatasan Baduy Dalam dan Luar |
Hari itu kami tiba di Baduy Dalam, tepatnya kampung Cibeo, pada pukul 17.30, di sana terkesan lebih tenang dari Baduy Luar. Seluruh rumah yang ada bentuknya sama dan tidak banyak. Untuk membangun rumah sendiri ada syarat-syaratnya dan harus dengan persetujuan kepala adat atau Pu'un. Ada hal yang menarik dari rumah di Baduy Dalam, ada makna yang sangat penting. Rumah bagi warga Baduy Dalam adalah banar-benar tempat untuk keluarga dan tempat untuk beristirahat. Kalian tidak akan menemukan warga di sini melakukan pekerjaan apapun di rumah selain memasak. Semua pekerjaan mereka lakukan di ladang. Jadi setelah kembali dari ladang, rumah adalah tempat mereka dengan keluarga. Menarik bukan? Satu nilai yang jarang didapatkan di kota, dimana setelah pulang kantor pun kita masih mengerjakan pekerjaan kantor, tidak ada waktu untuk istirahat dan bahkan untuk keluarga.
Malam itu kami mandi di pancuran untuk wanita dan para lelaki mandi di sungai. Tidak diperbolehkan menggunakan sabun dan odol saat mandi, jadi kami hanya mandi dengan air saja. Untuk buang air besar/kecil harus dilakukan di sungai. Tidak ada kamar mandi di sini. Semuanya serba alam.
Untuk tempat makan dan minum pun terbuat dari bahan-bahan alamiah. Kami minum dari gelas bambu. Sendok sayurnya juga terbuat dari tempurung kelapa.
TENTANG BADUY DALAM
Adat istiadat Baduy Dalam antara lain adalah:
- Pakaian masyarakat Baduy Dalam hanya ada dua warna yaitu hitam dan putih. Pakaian yang mereka pakai adalah buatan tangan mereka sendiri, hasil dari menenun.
- Mereka tidak menggunakan alas kaki.
- Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk transportasi. Beberapa dari mereka sudah pernah ke Jabodetabek. Mereka berjalan kaki pergi dan pulang.
- Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah Pu'un)
- Tidak diperbolehkan menggunakan alat elektrononik. Untuk malam hari mereka menggunakan lampu minyak.
- Tidak menggunakan bahan-bahan kimia untuk mandi.
Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia. Masyarakat Baduy Dalam tidak terdaftar sebagai warga negara Indonesia, mereka tidak di sensus dan tidak memiliki KTP. Saat pemilu mereka juga tidak memilih, sungguh indah bukan, bisa hidup tenang tanpa harus memikirkan politik :). Pemimpin mereka adalah Pu'un, Pu'un sendiri jabatannya diturunkan ke anak atau saudara. Seperti sistem kerajaan. Pu'un di bantu oleh Jaro. Untuk Jaro sendiri dipilih oleh warga lewat musyawarah. Pu'un sendiri adalah orang yang dikhususkan, seperti rumahnya ada batas yang tidak bisa dilewati, jalan yang dilalui Pu'un untuk ke ladang berbeda dengan jalan masyarakat biasa, tempat mandi dan ladangnya pun terpisah dari masyarakat biasa.
Kepercayaan mereka adalah Sunda Wiwitan, ajaran turun temurun yang berakar pada penghormatan kepada arwah leluhur dan roh kekuatan alam. Objek kepercayaan mereka adalah Arca Domas, lokasinya dirahasiakan dan paling sakral. Mereka ke lokasi itu setahun sekali pada bulan ke lima.
Mata pencaharian mereka adalah bertani. Terutama tani padi huma. Masing-masing rumah memiliki lumbung padi. Selain bertani mereka juga menjual hasil buah-buahan dan kain hasil tenunan.
![]() |
| Lumbung Padi |
Terdapat 3 desa utama di Baduy Dalam, Desa Cikeusik, Cikertawana dan Cibeo. Menurut tour leader kami, Desa Cikeusik lebih ke pemerintahan, Desa Cibeo lebih ke sosial dan Desa Cikertawana sendiri lebih ke urusan agama/mistis. Kami hanya berkunjung ke Cibeo dan Cikertawarna karena Cikeusik masih lumayan jauh perjalanannya, sekitar 2km lagi. Desa Cikertawana sendiri berbeda dengan Desa Cibeo. Jika di Cibeo kita masih bisa melihat warganya, di Cikertawana kami tidak melihat warga mondar mandir. Warga di Cikertawana lebih tertutup, tidak ada pengunjung yang diperbolehkan menginap di situ, kecuali jika memiliki kepentingan khusus.
Berikut adalah beberapa peraturan bagi pengunjung yang akan menginap di baduy dalam:
- Menghargai dan menghormati adat istiadat Baduy Dalam
- Tidak diperbolehkan menggunakan alat-alat elektronik
- Tidak boleh membuat suara gaduh
- Tidak menagkap dan membunuh biatang kecuali berbahaya (Di perjalanan kami bertemu dengan kaki seribu yang besarnya lebih besar dari jempol tangan orang dewasa, pnajangnya sekitar 15cm, tapi kami tidak boleh membunuhnya, sayang tidak boleh di foto)
- Tidak membuang sampah di sungai dan tempat lainnya
- Tidak boleh menebang pohon
- Tidak mencabut dan merusak tanaman
- Tidak menggunakan sabun dan odol saat mandi
- Dilarang memotret, merekam suara dan membuat video
Untuk perjalanan pulang kami melewati rute berbeda, kami melewati danau. Sekitar 3 jam dari Baduy Dalam. Menurut cerita jaman dahulu, di tengah-tengah danau ini ada semacam pintu yang tembus ke laut. Selain itu ada satu legenda juga yang mengatakan kalau di danau itu ada lembu, lembu itu bukan lembu yang kita pikirkan tapi merupakan seekor ular besar yang merupakan penjelmaan Dewa Cai atau Dewa Air.
Perjalanan dari danau ke Desa Ciboleger tidak jauh lagi, kira-kira satu jam. Setelah melewati naik turun beberapa bukit yang berbatu-batu dan tanah liat, akhirnya kamipun tiba kembali di Desa Ciboleger. Di sana kami makan siang, bagi yang ingin mandi juga sudah bisa mandi menggunakan sabun. Dari situ kami kembali ke Rangkasbitung menggunakan elf, dan kembali ke Jakarta menggunakan KRL.
Dua hari perjalanan ke pedalaman Baduy, jauh dari bisingnya kota Jakarta, belajar untuk bisa lebih bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki. Lelah tapi puas dengan apa yang didapatkan dan belajar hal baru.
Thanks to our Baduy Boys :)
All this photos are belong to my travel partner Lisa Arnida Lisapaly.













Komentar
Posting Komentar